Saat Kane menekan senjatanya, dengan kecepatan luar biasa, seorang pria melompat di antara Kane dan Leena, mendorong Leena ke samping dengan gerakan lembut tetapi tegas. Kane terhuyung mundur, terkejut oleh serangan mendadak itu.

Pria itu berdiri tegap, rambut panjangnya terurai, matanya tajam menatap Kane. Dia hanya mengenakan pakaian dari kulit binatang, tetapi aura kekuatan memancar dari tubuhnya.

“Siapa kau?!” teriak Kane dengan marah, mengarahkan senjatanya ke pria itu.

Namun, sebelum pria itu menjawab, Leena yang terbaring di tanah menangis bahagia. “Lynx… kamu di sini.”

Lynx melirik Leena sejenak, matanya melunak. “Kamu tidak apa-apa?”

Leena mengangguk, meskipun tubuhnya masih gemetar. “Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi.”

“Maaf aku terlambat, kamu pasti sudah menderita selama ini. Jangan khawatir. Aku ada di sini sekarang,” kata Lynx dengan suara tenang tetapi penuh keyakinan.

Kane masih menatap Lynx dengan penuh kemarahan. “Kau berpikir bisa menghalangiku? Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan!”

Lynx menatap Kane dengan dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti dia.”

“Beraninya kau—” Kane tidak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika makhluk laba-laba lainnya muncul dari kegelapan, menyerang mereka lagi.

Lynx bergerak cepat, melompat ke arah makhluk itu dan menyerangnya dengan pukulan dan tendangan yang kuat. Tubuh makhluk itu terpental ke dinding gua, dan suara tulang-tulangnya patah terdengar jelas.

“Dia… kuat,” gumam Freya dengan kagum, meskipun tetap memegang senjatanya dengan waspada.

Leena berdiri dengan gemetar, menatap Lynx yang bertarung sendirian melawan makhluk-makhluk laba-laba. Air matanya mengalir lagi, tetapi kali ini bukan karena ketakutan.

“Kamu datang… tepat waktu,” bisiknya pelan, berharap Lynx dapat mendengar rasa terima kasihnya di tengah keributan itu.

Sosok Lynx sering menghilang, mendadak di depan, tidak lama di belakang. Gerakannya sangat cepat. Lynx berusaha melindungi Leena dari serangan makhluk laba-laba yang mulai mengelilingi mereka. Lynx memukul dinding gua hingga beberapa batu dinding berjatuhan. Lynx mengambilnya dan melempar laba-laba itu dengan pecahan batu-batu kecil.

Suara mendesing keluar setiap kali Lynx melemparkan batu-batu ke arah laba-laba. Dengan cepat, jumlah laba-laba yang menyerang di dekat mereka berkurang, namun laba-laba besar yang datang semakin banyak.

Sementara itu, Kane memandang Lynx dengan tatapan penuh pertanyaan. Siapa sebenarnya pria ini, dan bagaimana dia bisa memiliki kekuatan seperti itu?

Setelah melumpuhkan puluhan laba-laba dengan mudah, Lynx berdiri tegap di depan Kane dan anak buahnya. Matanya menatap tajam, penuh keyakinan yang telah terbentuk dari latihan keras bersama Mochi.

Kane, yang merasa posisinya terancam, mengarahkan senjata lasernya ke Lynx. “Kau pikir dirimu tak terkalahkan hanya karena kau bisa memukul beberapa monster?” katanya dengan nada menghina.

Lynx tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Gerakannya pelan, tapi tubuhnya jelas siap untuk bertarung kapan saja.

“Freya! Hancurkan dia!” perintah Kane.

Freya yang memiliki tubuh atletik, memiliki bela diri yang tinggi. Puluhan musuh baik pria maupun wanita, bertekuk lutut di bawah kakinya. Kemampuan bertarungnya sangat kuat. Dia termasuk salah satu anak buah kepercayaan Kane yang mampu bertarung tangan kosong melawan puluhan pria.

Freya pernah menjalankan misi seorang diri, menembak dan membunuh ratusan musuh-musuhnya dengan kejam tanpa pandang bulu.

Saat memandang Lynx, meski melihat kemampuan Lynx, dia merasa Lynx cukup kuat dan cepat, tapi itu tidak cukup. Fisik yang dimiliki Lynx terlihat seperti orang lemah, tidak terlatih. Kulitnya terlihat halus seperti seorang wanita.

Freya lalu maju menyerang Lynx. DIa mengeluarkan pukulan dengan kekuatan penuh. Freya sudah membayangkan pria di depannya akan jatuh dalam sekali pukul. Namun, kenyataannya, pukulannya meleset beberapa inchi dari wajah pria itu.

Dengan cepat, Freya merubah gerakannya dengan memukul dan menendang, namun Lynx dapat menangkisnya dengan mudah.

"Aku tidak ingin menyakiti wanita. Pergilah!" kata Lynx sambil mendorong pelan kaki Freya yang sedang dalam posisi diatas menendang. Freya kehilangan keseimbangan dan terjatuh kebelakang.

Lynx segera melompat da mengambil kembali batu yang ada di tanah dan menyerang kembali laba-laba yang mendekat.

"Leena, kamu baik-baik saja?" Tanyanya kepada Leena. Kerinduan terpancar dari sorot mata mereka berdua.

Freya yang marah dan dianggap remeh, mengeluarkan pisau serta tongkat listriknya dan menyerang Lynx lagi dengan cepat dan ganas, namun semua serangannya sia-sia.

"Gunakan senjatamu! tembak dia!" bentak Kane, sambil menembaki laba-laba raksasa yang mendekat. Kane tidak bisa menembak Lynx karena jaraknya terlalu dekat dengan Freya.

Berkat latihan kerasnya, Lynx bergerak dengan keluwesan yang sempurna. Dia menghindar ke kiri, membuat serangan tongkat listrik itu meleset dan serangan pisau dia hindari dengan mudah. Dalam waktu kurang dari dua detik, dia sudah berada di belakang Freya.

Dengan satu gerakan cepat, Lynx memukul punggung Freya, membuatnya jatuh pingsan.

Kane menyaksikan anak buahnya kalah begitu mudah, wajahnya berubah merah karena marah.

“Cukup!” Kane berteriak, mengangkat senjata lasernya dan menembakkan beberapa tembakan bertubi-tubi ke arah Lynx.

Lynx menghindari tembakan-tembakan itu dengan lompatan ringan, gerakannya seperti angin yang sulit disentuh. Latihan kontrol energinya membuat setiap langkahnya efisien dan presisi.

“Kau harus lebih cepat dari itu,” ujar Lynx sambil tersenyum mengejek.

Kane menggeram, meningkatkan intensitas tembakan senjatanya. Tapi Lynx terus mendekat dengan gerakan zig-zag, membuat Kane semakin frustrasi.

"Apakah hanya ini kekuatanmu?" Kata Lynx menyindir. "Ini untuk suku Sinto yang kamu bunuh." terdengar suara Lynx yang tiba-tiba ada di belakang Kane.

Kane segera menoleh, namun sebuah hantaman keras mengenai perutnya hingga dia terjatuh berlutut.

Kane segera berdiri sambil menembak Lynx kembali dengan marah, namun Lynx dapat menghindari setiap serangan Kane dengan mudah dan mendekat.

Ketika Lynx berada cukup dekat, dia memutar tubuhnya dengan kecepatan tinggi, menendang senjata laser dari tangan Kane hingga terlempar jauh.

“Sekarang hanya kita berdua,” kata Lynx dengan nada tenang.

Kane mencoba menyerang dengan tinju, tetapi Lynx menangkap pukulan itu dengan mudah, memutar tubuh Kane hingga dia terjatuh ke tanah. Dalam sekejap, Lynx berada di atas Kane, memegang kedua pergelangan tangannya.

“Sudah cukup,” kata Lynx. “Kau sudah kalah.”

Kane memandang Lynx dengan mata penuh kebencian. “Aku tidak akan kalah begitu saja,” gumamnya.

Dengan gerakan cepat, Kane mengaktifkan perangkat perisainya sehingga pegangan Lynx terlepas karena kaget. Kane segera meraih sesuatu dari sakunya—beberapa bom fragment yang mulai berdetak dengan suara nyaring.

“Kalau aku harus mati, kau akan ikut mati bersamaku,” kata Kane sambil tertawa dingin.

“Jangan lakukan itu!” teriak Lynx, tetapi sudah terlambat.

Kane menekan tombol pada bom itu, dan ledakan besar mengguncang gua. Reruntuhan batu mulai jatuh, menutup jalan keluar. Tubuh Kane dan anak buahnya hancur bersama ledakan itu.

Dalam keadaan kritis sebelum Kane menekan tombol, Lynx secepat kilat melompat ke belakang menarik Leena dan menggendongnya menjauh ke balik sebuah batu besar. Saat ledakan terjadi, Lynx menutupi Leena dengan tubuhnya sehingga dia terlempar oleh kekuatan ledakan, tetapi tubuhnya masih utuh. Dia cepat-cepat berdiri dan memastikan kondisi Leena yang terpojok di sudut, terlindung dari ledakan oleh sebuah batu besar.

“Leena! Kau baik-baik saja?”

Leena mengangguk, meskipun wajahnya terlihat panik.

Namun, sebelum mereka bisa bernapas lega, suara gemerisik dan geraman terdengar dari belakang. Monster laba-laba yang tersisa mulai keluar dari lorong-lorong, panik karena getaran ledakan. Dari lorong lain terlihat juga beberapa monster yang keluar.

“Mereka datang!” teriak Leena.

Lynx segera berlari ke arah Leena, menggendongnya di punggung. “Pegangan yang kuat. Kita harus keluar dari sini!”

Dengan Leena di punggungnya, Lynx berlari melewati lorong-lorong gelap yang penuh dengan monster yang mengejar mereka. Dalam pikirannya, dia mencari cara untuk melarikan diri. Lynx menajamkan panca indranya agar dapat berlari dengan cepat di kegelapan.

“Leena, aku punya rencana. Kita akan menjebak mereka di sini,” kata Lynx.

Leena memeluk Lynx erat-erat, wajahnya tegang. “Apa pun yang kau lakukan, lakukan cepat! Gua ini terasa akan runtuh!”

